Sabtu, 06 Februari 2010

CULTURE AUSTRALIA

Budaya Australia
Dasar utama budaya Australia hingga pertengahan abad ke-20 ialah Anglo-Kelt, meski ciri Australia yang berbeda telah berkembang dari lingkungan dan budaya penduduk asli. Selama 50 tahun terakhir, budaya Australia telah dipengaruhi kuat oleh budaya pop Amerika (khususnya televisi dan film), imigrasi skala besar dari negara-negara yang tak bercakap Inggris, dan tetangga Asianya. Tenaga dan keaslian seni di Australia — film, opera, musik, lukisan, teater, tari, dan kerajinan tangan — memperoleh pengakuan internasional.
Australia memiliki sejarah panjang seni visual, bermula dengan lukisan gua dan kulit kayu penduduk aslinya. Dari masa permukiman Eropa, tema umum dalam seni Australia ialah pemandangan Australia, nampak dalam karya Arthur Streeton, Arthur Boyd dan Albert Namatjira, di antara lainnya. Budaya penduduk asli Australia secara besar dituturkan dari mult ke mulut dan berkaitan erat pada upacara dan cerita Zaman Mimpi. Musik, tari, dan seni Aborigin Australia memiliki pengaruh gamblang pada seni visual dan pertunjukan kontemporer. Australia memiliki budaya aktif musik, balet, dan teater; banyak perusahaan seni pertunjukannya menerima dana umum melalui Dewan Seni pemerintah federal. Ada orkestra simfoni di tiap ibukota, dan perusahaan opera nasional, Opera Australia, menjadi menonjol oleh diva terkenal Dame Joan Sutherland; musik Australia termasuk musik klasik, jazz, dan banyak genre musik pop lainnya.
Etika bisnis dan profil budaya Australia
Orang Australia tidak terlalu suka dengan berbagai ungkapan berlebihan, seperti "yang terbaik", "terhebat" atau "yang besar". Istilah semacam itu mungkin biasa bagi orang Amerika.
Australia kerap dikenal sebagai benua yang “dekat di peta, jauh di hati”. Ia adalah benua terkecil, yang letaknya bersebelahan dengan negara kita. Tonggo, kata orang Jawa. Tapi walaupun demikian, Australia sering lebih dianggap sebagai bagian dari Dunia Barat. Anggapan itu cukup beralasan. Lantaran, latar belakang historis Australia banyak dipengaruhi pendatang asal benua Eropa, yang sebagian besar berasal dari Inggris dan Irlandia. Pemukiman pertama Inggris dibangun pada tahun 1788.
Penduduk asli Australia sendiri, bangsa Aborijin dan penduduk Kepulauan Selat Torres, sudah menghuni tempat ini sebelum pendatang dari Eropa hadir. Namun jumlah mereka hanya sedikit. Di tahun 2001, mereka hanya berjumlah sekitar 410.003 (2,2% dari total penduduk Australia yang jumlahnya 20,2 juta jiwa). Selain itu, warga Australia merupakan campuran keturunan bangsa-bangsa lain. Ada yang dari Italia, Yunani, bahkan dari Asia seperti China dan Viet Nam. Dengan warna Asia yang cukup kental, jangan kaget kalau nasi goreng, mie, dan rendang cukup banyak dikenal warga Australia.
Banyaknya warga keturunan Asia yang bermukim di Australia menimbulkan reaksi beragam. Sebagian warga ingin memelihara warisan budaya Inggris sebagai identitas mereka. Sementara lainnya lebih menghendaki Australia menjadi negara multikultur. Karena itu pada tahun 1973 Pemerintah Australia membatalkan Kebijakan Australia Putih. Tujuannya untuk mengalakkan dan mempromosikan keamanan budaya berdasarkan multikularsime.
Lantas, dengan percampuran etnis dan latar belakang, apakah yang membedakan dari negara berbahasa Inggris lainnya? Memang, Bahasa Inggris adalah bahasa utama sekaligus bahasa resmi. Sekitar 80% penduduk Australia berkomunikasi dengan bahasa ini. Namun 4,1 juta orang Australia memiliki bahasa kedua. Bahasa selain Inggris yang paling umum di dalam negeri ialah Bahasa Mandarin (2,1%); Bahasa Italia (1,9%); Bahasa Yunani (1,4%); dan Arab. Ada juga 45 bahasa Aborijin yang digunakan penduduk asli benua koala ini.
Secara geografis, letak Australia berada di selatan khatulistiwa. Nama negara ini pun mirip dengan kata dalam bahasa Latin, ‘australis’, yang artinya ‘selatan’. Nama yang pas jika dilihat dari sudut pandang negara-negara di Eropa. Karena letaknya, Australia mempunyai iklim berlawanan dengan Eropa. Jika musim dingin di Eropa jatuh pada akhir hingga awal tahun; Australia justru mendapat musim dingin di pertengahan tahun. Artinya, liburan ‘musim panas’ di dua belahan dunia tersebut bisa punya arti berbeda. Lain lagi dengan negara kita Indonesia. Forever sunny alias hanya ada dua musim: hot, and very hot.
Etika Bisnis
Dalam melakukan bisnis, ada beberapa perbedaan antara orang Australia dan Inggris. Orang Inggris sangat dikenal menghormati etika dan berharap orang lain melakukan hal yang sama. Oleh karena itu bila Anda ingin melakukan kerja sama bisnis dengan mereka, ada baiknya untuk melakukannya dengan penuh hati-hati dan keramahtamahan yang sesuai dengan etika di negara mereka. Seperti juga Asia, masyarakat Inggris sangat menghormati orang-orang yang lebih tua dan sangat memperhatikan pakaian. Jadi gunakanlah pakaian yang agak konservatif dengan warna yang tidak terlalu terang, seperti biru tua, hitam atau abu-abu
Pada umumnya Australia memiliki etika bisnis yang hampir sama dengan Amerika dan Kanada, yang cenderung lebih terbuka. Namun saat Anda datang ke Australia, ada baiknya mempersiapkan diri dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa Inggris Amerika. Selain itu, orang Australia tidak terlalu suka dengan berbagai ungkapan berlebihan, seperti "yang terbaik", "terhebat" atau "yang besar" yang mungkin agak bermasalah bagi orang Amerika yang terbiasa dengan ungkapan-ungkapan seperti itu.
Perlu diperhatikan, banyak kata-kata yang bisa digunakan dan memiliki arti sama dalam Bahasa Inggris. Meski begitu bahasa Inggris yang digunakan di Inggris, Amerika dan Australia memiliki sejumlah perbedaan. Misalnya, orang Amerika mengenal istilah elevator, tapi di Australia yang dipakai adalah lift. Untuk itu, ada dua hal yang bisa Anda lakukan: (1) bila di saat perbincangan Anda menemukan kata yang jarang dipakai atau pembicaraan yang tak Anda mengerti, jangan ragu untuk meminta maaf dan menanyakan maksudnya pada mereka; (2) sempatkan mencari kamus tentang istilah atau idiom yang umum digunakan.
Membuat janji sebelum meeting juga merupakan hal penting. Dan penuhilah sesuai waktu. Ini akan memberi kesan bahwa Anda terorganisasi dengan baik dan menghargai agenda kerja mereka.
Jika Anda berkesempatan berhubungan bisnis dengan partner keturunan Australia, ada baiknya mengingat bahwa masyarakat Australia sangat menjunjung tinggi sikap kekeluargaan dan pertemanan. Hal ini berpengaruh pada kebiasaan mereka di kantor. Mengucap salam dengan cara berpelukan, mencium pipi, memberi hadiah atau mengundang makan di rumah adalah salah satu tradisi mereka sebagai tanda penerimaan bagi orang Australia.
Mereka cukup dikenal dengan sikap demonstratifnya. Adalah lumrah jika percakapan dilakukan secara meledak-ledak dengan bahasa yang berbunga-bunga dan ungkapan yang diindah-indahkan.
Minat Seni Penduduk Australia
Apabila Anda ingin mengajak rekan bisnis Australia mengunjungi acara pertunjukan seni, ini adalah ide yang baik. Karena masyarakat Australia adalah penggemar seni. Sedikitnya 88% penduduk Australia mengunjungi kegiatan atau pertunjukan budaya setiap tahunnya.
Bentuk seni yang paling populer adalah film, dikunjungi oleh 70% penduduk setiap tahun. Selain itu, konser musik populer pun menjadi pilihan hiburan yang didatangi 26% warga Australia tiap tahunnya. Pilihan lain yang tak kalah digemari adalah bertandang ke galeri seni atau museum, menonton opera atau pertunjukan musikal, melihat teater dan mengunjungi pertunjukan tari serta konser musik kalsik.
Dengan memahami budaya dan etika bisnis secara tepat, komunikasi bisnis bisa menjadi lancar. Karena pengetahuan tersebut bisa menjauhkan kita dari salah tingkah dan salah paham. Meski demikian, hampir setiap orang tahu, budaya pop dewasa ini membuat orang-orang di berbagai tempat memiliki keseragaman. Tengok saja, selera musik hampir sama; tontonan di bioskop, filmnya seragam; model pakaiannya seperti kembar; gaya hidupnya pun tak jauh satu sama lain. Apakah ini artinya bola dunia sudah menjadi kelereng?
Kebudayaan, Etika Bisnis dan Gaya Komunikasi
Australia memiliki banyak wilayah dengan budaya yang berbeda-beda. Warganya yang berada di Melbourne cenderung lebih tenang dan bersahaja, sedangkan di Sidney, masyarakat cenderung lebih terbuka. Bahasa yang digunakan Inggris versi Australia, terkenal dengan akronim yang membingungkan. Sedangkan Indonesia walaupun terdiri dari berbagai kebudayaan, dengan wajah ramahnya menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia) dan bahasa internasional yang mudah dimengerti pada berbagai pertemuan bisnis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar